Sudah berkali-kali aku mendengar kisah Nabi Ibrahim, tapi hari baru kali ini aku ingin menangis.
Di Islamic Center of Kent, Washington,USA, kisah itu hari ini diperdengarkan lagi oleh khotib muda yang berwajah cerah itu. Aksen Inggrisnya membuat siapa saja bisa menebak bahwa dia berasal dari daerah timur tengah. Meski bisa mengikuti dengan baik, ada beberapa bagian yang membuat saya harus berkonsentrasi penuh agar paham.
Pemanas ruangan di masjid kecil itu tak mampu mengusir hawa dingin akhir musim gugur menjelang winter—di negeri yang selalu dingin sepanjang tahun ini. Wajarnya, dikhotbahi pagi-pagi dalam cucaca dingin sedemikian rupa setiap orang pasti terkantuk. Tapi ketika kuangkat kepala dari menatap lantai, kulihat semua orang di kiri kananku takzim mengikuti kotbah. Dari barisan depan sudah banyak yang terisak. Beberapa orang sudah mengusap punggung tangan ke mata. Tadinya kupikir aku sendiri yang memerah matanya.
Subscribe to:
Comments (Atom)


