Jika bukan karena dinginnya, ingin rasanya aku berlama-lama duduk di balkoni sambil menerawang sepinya malam. Ditemani secangkir kopi dan krimer tanpa gula—favoritku. memikirkan jalan hidup.
Dulu waktu kecil, di kampungku yang jauh, jika malam sedang terang bulan aku suka sekali duduk di beranda rumah panggungku. Menatap langit malam yang bertabur beribu bintang. Terangnya sama seperti malam ini disini. Semakin larut jalanan akan semakin sepi. Pemuda-pemudi yang biasa bercengkerama di bangku-bangku yang dibangun di depan rumah-rumah penduduk akan pulang satu demi satu. Mobil-mobil pun semakin jarang melintas lagi.


