Anjrit, gue cinta Indonesia!*

No comments

Monday, September 29, 2014

Indonesia sekarang ini seperti perahu dayung yang sedang terombang-ambing hebat karena orang-orang di atasnya -- yang seharusnya mendayung bersama-sama, sekarang sibuk gontok-gontokan saling berebut kendali. Seperti lupa tujuan awal mereka naik perahu, semua kuat-kuatan mendayung ke segala arah. Energi, pikiran dan sumber daya terkuras habis. Waktu pun terbuang tak berarti. Perahu bergoncang-goncang hebat, namun tak beranjak kemana-mana. Berayun-ayun di tempat, tanpa arti.

... sementara itu perahu orang sudah mengarah ke bulan.

***

Indonesia, kita semua cinta. Hentikanlah akrobat politik yang melelahkan ini. We've got better things to do. Banyak PR yang harus kita selesaikan. Sudahilah aksi tikung-salip dan politik taktis pragmatis yang agendanya tak lebih dari sekedar merebut tampuk kekuasaan ini. Seingat saya, wakil rakyat di pilih untuk mewakili rakyat, bekerja memajukan rakyat. Kalau kerjaannya saling menjatuhkan terus, bangun rakyatnya kapan nih?

Kalau mau bergerak maju, orang-orang di kedua sisi perahu harus mendayung bersama, dalam ritme dan arah yang sama pula. Kalau ribut terus, lama-lama perahunya karam loh.

Yuk ah, kita damai. Yuk kita buka pikiran, berbesar hati terima perbedaan. Yuk kita hentikan kebiasaan memaksakan kehendak, karena pada dasarnya tidak ada orang yang suka diatur-atur. Tidak ada orang yang suka jalan pikirannya dipaksakan untuk mengikuti jalan pikiran orang lain.

Yuk sama-sama pula kita pahami bahwa keberhasilan politik bukanlah ditandai dengan keberhasilan merenggut bendera kekuasaan dan berdiri di puncak kepemimpinan. Kesuksesan sejati dalam politik adalah keberhasilan menetaskan kebijakan yang berpihak pada kedamaian dan kesejahteraan rakyat, yang bisa dicapai tanpa harus menjadi presiden --  tidak semua orang harus menjadi lead vocal dalam sebuah harmony -- jika memang semua mengaku berpolitik untuk memperjuangkan kepentingan rakyat.

Mari kita sadari juga bahwa ide-ide yang dipaksakan -- dictatorship, walaupun benar sekalipun -- hanya akan melahirkan benih-benih pemberontakan dan barisan sakit hati. Sementara ide-ide yang diterima karena menginspirasi akan membangun pengikut yang loyal dan kritis, yang akan memastikan iklim yang kondusif untuk kemajuan yang berkelanjutan. Pilih mana, kebenaran yang dipaksakan secara top down kepada semua orang namun dipenuhi potensi pemberontakan dan perpecah belahan, atau kebenaran yang menginsiprasi dan diterima orang dengan senang hati karena orang bisa  melihat representasi kebenaran itu dari tingkah laku kita?

Mana budaya santun dalam berpolitik kita yang terkenal itu? Mari tunjukkan sikap yang mencerminkan kalau kita memang 'berbudaya' dan berpendidikan memadai, serta benar-benar bekerja untuk kemajuan bangsa, bukan menghambatnya.

Kita semua punya tujuan sama, ingin memajukan Indonesia kita tercinta ini, bukan? Nah, apa indikator kemajuan?  Yang paling sederhana ya meningkatnya pembangunan di segala sektor: ekonomi, pendidikan, sosial budaya, dan sebagainya. Yuk kita set target kemajuan-kemajuan yang ingin kita capai, lau sama-sama kita merealisasikannya. Tidak penting siapa yang jadi pemimpinnya.

Kita memandang segala sesuatu dari sudut pandang yang berbeda-beda, karena frame berpikir dan konteks yang kita gunakan pun juga berbeda-beda. Tapi selama hasilnya sama-sama 24, why bother mau 4x6 atau 6x4? Kita masih di level SD, selain perkalian masih ada pembagian, pengurangan, akar kuadrat, dan pelajaran lainnya. Usakan dulu naik kelas. Nanti kalau sudah waktunya pasti akan datang juga pelajaran kalkulus :-p



- Edinburgh, 29/09/14
*Terjemahan dari "Damn, I love Indonesia" (karena menurut saya agak ironis bilang cinta indonesia tapi ngomongnya ga pake bahasa Indonesia :-p)

Untuk Kader PKS - dari Teman Lama

1 comment

Tuesday, June 24, 2014

Untuk teman-teman kader PKS yang terhormat.

Note:
Tulisan ini pertamakali saya terbitkan di Kompasiana dan mendapat cukup banyak sambutan. Lebih dari 20.000 kali dibaca, dan 11.000 kali dishare/dibicarakan di Facebook. Beberapa pihak mengutip dan menerbitkan ulang tulisan ini, misalnya islamtoleran.com dan halaman facebook (most likely abal-abal) milik Quraish Shihab.

Banyak pihak memakai tulisan ini untuk menyerang PKS, walaupun saya sendiri menulisnya dengan niat tulus untuk mengingatkan teman-teman kader PKS yang saya nilai sudah sering kelewatan dalam membela capres mereka. Beberapa komentar juga sudah sangat kelewatan menjelek-jelekkan pihak PKS.

Sekali lagi saya sampaikan -- seperti yang saya tulis dalam tulisan tersebut -- saya tidak memusuhi PKS, apalagi kadernya sebagai personal, dan saya akan tetap berupaya objektif dalam memandang segala sesuatu, termasuk sepak terjang partai yang satu ini.Tulisan ini adalah upaya saling mengingatkan saja.

Ingatlah, sejatinya bukan pribadi Prabowo-nya yang sedang kalian bela, tetapi harapan kalian yg saat ini kalian titipkan di gerbong politiknya. Karena andai saja kepentingan kalian saat ini diusung capres yang satunya lagi, pasti kalian akan punya seribu alasan lain untuk mendukung Jokowi, orang yang saat ini kalian caci maki dan salah-salahkan itu. Oleh karena itu, hendaklah tidak berlebihan memuja-muji Prabowo atau mencaci maki Jokowi, karena sesungguhnya kalian tidak peduli mau Prabowo atau Jokowi. Andai kata besok majelis syuro tiba-tiba memutuskan untuk mendukung Jokowi, saya yakin kalian akan segera memeras otak untuk menemukan alasan mengapa Jokowi lebih baik.

Saat ini kalian pakai isu “tidak amanah” dan hadist “ciri-ciri orang munafik ada tiga” itu untuk mencela Jokowi, tapi tahukah apa yang kalian akan katakan seandainya kalian sekarang sedang mendukung Jokowi? Saya tahu betul, kalian pasti akan akan bilang bahwa dakwah bisa memanggil seseorang kapan saja dan tidak akan menunggu sampai seseorang siap. Kalian akan bela Jokowi, bahwa menjadi capres bukan berarti dia mengingkari janji, tetapi justru mengambil amanah yang lebih besar.

Kira-kira analogi kalian akan begini: Joko adalah seorang supervisor yang dicintai bawahan. Karena kemampuannya, sebelum kontraknya sebagai supervisor habis, ia diangkat menjadi direktur eksekutif. Tentu si Joko bukan berkhianat. Toh dia masih memimpin di perusahaan yang sama, hanya saja dengan lingkup yang lebih besar. Jokowi juga demikian. Dia masih memimpin rakyat Indonesia, hanya saja lebih banyak dari sebelumnya.

Call me depressed, but I like sad songs

No comments

Friday, May 23, 2014

Waktu di US, seorang teman suatu ketika melihat-lihat koleksi lagu di iPhone saya. Beberapa saat kemudian dia nyeletuk, "Why do you like sad songs? This is such a depressing colletion!", katanya.

Waktu itu saya terhenyak dan kemudian tercenung sendiri. Hmm ... dia benar juga, sebagian besar lagu di iPhone saya adalah lagu melow. Saya memang suka lagu-lagu sedih! How'd that happen?

Saya pun mulai mengingat-ingat sejak kapan saya mulai suka lagu-lagu sedih. Dan seingat saya, sejak saya mulai mengenal yang namanya musik, saya sudah suka lagu sedih! Saya jadi amazed sendiri menyadari hal ini.

Waktu kecil di kampung dulu di pelosok Sumatra sana, tahun 90-an awal, lagu-lagu sedih sudah populer di kampung saya. Tembang-tembang melankolis Obbie Messakh, Pance Pondag, Ratih Purwasih, dll sudah merajai chart radio transistor cawang batere dua punya tetangga saya. Semuanya melow. Lagu-lagu dangdut jaman dulu, lagu-lagu daerah, bahkan lagu-lagu rock ballad kayak Scorpion, White Lion, Bon Jovi dll ... OMG, semuanya melow!

Waktu SMP dan SMA saya mulai mengenal band-band kayak Dewa 19, Cranberries, Padi, Sheilla on 7, Cold Play, apalagi Nirvana dll, semuanya melow jugaaa! Kok bisa sih?
Sejak booming Laskar Pelangi, jumlah pengunjung ke pulau Belitong melonjak drastis. Jumlah hotel dan travel agents pun meningkat pesat. Jika anda Google 'paket wisata belitung' ada puluhan website travel agents yang menyediakan bermacam-macam paket tur. Tapi seperti yang pernah saya bahas seleumnya, bepergian dengan mengikuti program travel agent kurang adventurous, melelahkan, dan relatif mahal. Menurut saya pergi sendiri ke sana jauh lebih asyik.

Pemandangan dari Mercusuar Pulang Lengkuas
Pantai Belitung adalah salah satu yang terindah yang pernah saya kunjungi. Saya sudah empat kali kembali ke sana. Laut dangkal berwarna biru muda dengan pasir putih yang lembut, serta pulau-pulau kecil yang dipenuhi bebatuan besar adalah lanskap klasik pulau kecil di pesisir timur Sumatra ini. Lokasi yang mudah dijangkau (40 menitan terbang dari Jakarta) serta penduduk melayu yang ramah juga menjadi daya tarik tersendiri buat saya. Dan yang paling penting adalah, tempat ini masih less touristy, sehingga berasa masih natural dan nyaman untuk dikunjungi.

Island hoping dan snorkeling adalah aktifitas utama yang ditawarkan kepada turis-turis yang datang. Aktifitas lain adalah mengunjungi sekolah Laskar Pelangi, atau ke pasar Tanjung Pandan dan sebagainya. Sekolah Laskar Pelangi juga ada dua, satu dibangun oleh pemerintah satunya lagi bekas syuting film LP, dua-duanya adalah replika.

Pemilu ini Kita TIDAK AKAN Pilih Prabowo

1 comment

Wednesday, May 21, 2014

Kemaren postingan ini berseliweran di Facebook saya. Pengennya sih ngga ikut komen, tapi kok ga tahan gitu. hehehe. Saya bukan pengamat politik, tapi dari yang saya tahu, semua hal di bawah ini bullshit. Silahkan dukung Prabowo, tapi jangan dengan alasan-alasan berikut.


Ini jawaban saya:

1.       Orang pintar belum tentu baik.
Tegas? Maksudnya emosian? Orang tegas ga harus marah-marah, lempar HP, atau apalagi main senjata. Kalo emang tegas, kok ga berani lawan atasan waktu disuruh nyulik dan bunuh aktifis 98? Ingat juga, dulu PS pernah bilang mendukung FPI, tapi ketika diprotes buru-buru meralat ucapannya.
2.       Hitler, idi amin, stallin dll asal-usulnya juga jelas. Tetap aja jahat.
3.       Masa? Wakilnya aja HR, mentri ekonomi SBY yg pro kapitalis. ARB mau diangkat jadi mentri utama. Apa ga justru Amerika seneng, tuh?

Image: startups.co.uk
Walaupun tidak mengindentifikasikan diri sebagai a real backpacker, setiap pergi jalan-jalan saya selalu berusaha memaksimal sisi petualangannya dan sisi relaksasinya, dengan sebisa mungkin menekan budget serendah-rendahnya. Oleh sebab itu saya selalu berusaha menghindari paket tur dari travel agents. Selain relatif mahal, paket tur akan memberi kita pengalaman yang sangat "generik" dan mainstream, yang akan didapatkan oleh semua wisatawan lain. Jadwal agendanya pun sangat tidak flexibel. Travel agents pada umumnya sangat pragmatis, mereka hanya ingin semua agenda di dalam paket selesai dilaksanakan. Terkadang agendanya sangat padat, sehingga alih-alih menikmati wisata, kita malah terjebak dalam perjalanan yang melelahkan.

Yang saya khawatirkan dari kelakuan buruk turis Indonesia yang ke luar negeri adalah terbentuknya Image bahwa turis Indonesia itu kampungan, norak, dan tidak tahu tata tertib.

Illustrasi
source: tripadvisor.com
Baru-baru ini saya backpacking ke Bangkok. Sebagai salah kota tujuan wisata international yang letaknya sangat dekat dengan Indonesia, rasanya kurang afdol jika sudah pernah kemana-mana tapi belum menyambangi Bangkok. Untuk liputan tentang pengalaman di Bangkoknya sendiri saya ulas di tulisan lain. Dalam tulisan ini saya ingin fokus ke tingkah laku turis Indonesia yang saya perhatikan selama di Bangkok.