Note:
Tulisan ini pertamakali saya terbitkan di Kompasiana dan mendapat cukup banyak sambutan. Lebih dari 20.000 kali dibaca, dan 11.000 kali dishare/dibicarakan di Facebook. Beberapa pihak mengutip dan menerbitkan ulang tulisan ini, misalnya islamtoleran.com dan halaman facebook (most likely abal-abal) milik Quraish Shihab.
Banyak pihak memakai tulisan ini untuk menyerang PKS, walaupun saya sendiri menulisnya dengan niat tulus untuk mengingatkan teman-teman kader PKS yang saya nilai sudah sering kelewatan dalam membela capres mereka. Beberapa komentar juga sudah sangat kelewatan menjelek-jelekkan pihak PKS.
Sekali lagi saya sampaikan -- seperti yang saya tulis dalam tulisan tersebut -- saya tidak memusuhi PKS, apalagi kadernya sebagai personal, dan saya akan tetap berupaya objektif dalam memandang segala sesuatu, termasuk sepak terjang partai yang satu ini.Tulisan ini adalah upaya saling mengingatkan saja.
Ingatlah, sejatinya bukan pribadi Prabowo-nya yang sedang kalian bela, tetapi harapan kalian yg saat ini kalian titipkan di gerbong politiknya. Karena andai saja kepentingan kalian saat ini diusung capres yang satunya lagi, pasti kalian akan punya seribu alasan lain untuk mendukung Jokowi, orang yang saat ini kalian caci maki dan salah-salahkan itu. Oleh karena itu, hendaklah tidak berlebihan memuja-muji Prabowo atau mencaci maki Jokowi, karena sesungguhnya kalian tidak peduli mau Prabowo atau Jokowi. Andai kata besok majelis syuro tiba-tiba memutuskan untuk mendukung Jokowi, saya yakin kalian akan segera memeras otak untuk menemukan alasan mengapa Jokowi lebih baik.Tulisan ini pertamakali saya terbitkan di Kompasiana dan mendapat cukup banyak sambutan. Lebih dari 20.000 kali dibaca, dan 11.000 kali dishare/dibicarakan di Facebook. Beberapa pihak mengutip dan menerbitkan ulang tulisan ini, misalnya islamtoleran.com dan halaman facebook (most likely abal-abal) milik Quraish Shihab.
Banyak pihak memakai tulisan ini untuk menyerang PKS, walaupun saya sendiri menulisnya dengan niat tulus untuk mengingatkan teman-teman kader PKS yang saya nilai sudah sering kelewatan dalam membela capres mereka. Beberapa komentar juga sudah sangat kelewatan menjelek-jelekkan pihak PKS.
Sekali lagi saya sampaikan -- seperti yang saya tulis dalam tulisan tersebut -- saya tidak memusuhi PKS, apalagi kadernya sebagai personal, dan saya akan tetap berupaya objektif dalam memandang segala sesuatu, termasuk sepak terjang partai yang satu ini.Tulisan ini adalah upaya saling mengingatkan saja.
Saat ini kalian pakai isu “tidak amanah” dan hadist “ciri-ciri orang munafik ada tiga” itu untuk mencela Jokowi, tapi tahukah apa yang kalian akan katakan seandainya kalian sekarang sedang mendukung Jokowi? Saya tahu betul, kalian pasti akan akan bilang bahwa dakwah bisa memanggil seseorang kapan saja dan tidak akan menunggu sampai seseorang siap. Kalian akan bela Jokowi, bahwa menjadi capres bukan berarti dia mengingkari janji, tetapi justru mengambil amanah yang lebih besar.
Kira-kira analogi kalian akan begini: Joko adalah seorang supervisor yang dicintai bawahan. Karena kemampuannya, sebelum kontraknya sebagai supervisor habis, ia diangkat menjadi direktur eksekutif. Tentu si Joko bukan berkhianat. Toh dia masih memimpin di perusahaan yang sama, hanya saja dengan lingkup yang lebih besar. Jokowi juga demikian. Dia masih memimpin rakyat Indonesia, hanya saja lebih banyak dari sebelumnya.
Politik tak pernah benar-benar objektif, pun politik dakwah kalian. Anda yg sudah lama menjadi bagian dari partai itu sudah pasti ingat sejarah, dimana adakalanya kalian harus menjilat ludah yang terlanjur terbuang, atau berbalik mendukung pihak yg tadinya lawan politik dan sempat dihujat habis-habisan. Oleh karena itu, janganlah berlebih-lebihan dan merasa benar sendiri.
Keharusan menyimpan dalam-dalam pendapat pribadi karena harus taat kepada kebijakan syuro dan semua turunannya memang sudah jadi kekuatan utama kalian — sekaligus jadi boomerang yang selalu jadi akar utama perpecahan internal. Ketaklukan kepada pemimpin kalian ini begitu tunduk, hingga kadang hilang kepercayaan diri untuk berpikir kritis, dan lupa bahwa para pemimpin itu adalah kumpulan manusia juga yg tidak bersih dari kesalahan. Bahkan ketika kesalahan itu jelas-jelas sekali pun, kalian akan mencoba berdalih dan menghibur diri sendiri.
Jika ada yang bersuara sumbang sedikit — tidak sependapat dengan syuro, kalian langsung hilang kesabaran dan ramai-ramai kalian kepung dan serang orang tersebut. Sedikit demi sedikit orang yang tadinya penuh bujuk rayu kalian rekrut melalui program kaderisasi kalian yang manis dan santun itu kalian jauhkan dari jamaah, dengan cara membuatnya tidak nyaman lagi berada di dekat kalian. Hanya karena dia berani mempertanyakan keputusan jamaah.
Sudahlah, persoalan memilih presiden ini bukan perkara menentukan yang hak dan yang batil, bukan? Ijtihad para petinggi kalian itu juga didasarkan pada asumsi yang dibuat atas fakta-fakta setampakmatanya mereka. Itu tidak setara dg firman tuhan atau sabda nabi. Makanya tidak perlu risau jika ada yg tak sependapat. Berhentilah merasa bahwa anda sepenuhnya benar dan tidak mungkin salah.
Kita sama-sama berniat baik dan tahu bahwa pilihan kita harus kita pertanggungjawabkan. Maka kita pertanggungjawabkan saja pilihan kita masing-masing. Dan ingat, tanggungjawab itu sifatnya individual. Jangan harap bisa buang badan dan sembunyi tangan, atau melimpahkan kesalahan kepada jamaah dengan berdalih bahwa itu keputusan jamaah. Karena ketika kita disodorkan pilihan, kita juga dibekali akal dan pikiran untuk menimbang-nimbanag mana yg lebih berat manfaat apa mudharat.
Berpendapat itu bagus, memaksakannya itu dilarang. Merasa Benar itu wajib, tetapi merasa tidak mungkin salah itu sombong.
Saya memang tidak bisa bergabung dalam jamaah kalian, karena hobi saya berpikir kritis dan beberapa faktor lain sebagainya tidak akan pernah membuat saya bisa fit-in. Tapi jangan khawatir, saya selalu objetktif menilai dan tidak pernah membuat harga diri saya pribadi mengahalangi saya melihat kebenaran (tidak seperti barisan sakit hati yang terbuang dari partai kalian). Saya juga tidak punya atasan/majelis syuro yang mengarahkan kemana pilihan politik saya. Maka jika suatu saat kalian menurut saya benar, saya tidak akan ragu dan tidak ada halangan untuk membenarkannya. Cuma untuk soal piplres ini, saya untuk kesekiankalinya harus berbeda pendapat (lagi).
Tentu saja, saya tetap ingin menjaga hubungan baik dengan kalian. Karena punya banyak teman itu tidak pernah ada ruginya. Meski kerap kali berbeda, ada hal-hal yang secara bersama bisa kita sepakati. Tapi yang terjadi, ketika saya sedang tidak mendukung kalian, rasanya keras sekali api kemarahan kalian kepada saya. saya sudah diposisikan sebagai musuh. Padahal saya cuma beda pilihan — itu pun kali ini.
Yang saya minta cuma satu, jangan karena beda pendapat, saya lalu dimusuhi. Karena kalian sendiri bilang, menjaga ukhuwah itu nomor satu bukan? Kalau pilih presiden itu nomor dua #teteup
| Jumlah Share base on howmanyshares.com |
beberapa twit dan facebook status. Lucu, ada yg mengira Dr. Quraish Shihab yang menulis ini



Semoga tulisan anda bisa membuka mata para kader PKS :)
ReplyDelete