Ini adalah tulisan lama yang pernah saya posting di note FB.Saya tulis ketika pulang dari interview beasiswa CCIP dulu. Alhamdulillah sekarang beasiswanya berjalan lancar. InsyaAllah bulan Agustus nanti caw ke Amrik, tepatnya di Des Moines, 20 menitan dari Seattle.
I'm a self employer, so I can manage my own holliday
Begitulah jawaban turis dari Kanada itu waktu kutanya apakah dia tidak harus bekerja. Jawaban yang sampai sekarang terus terngiang di telinga saya.
Ceritanya berawal ketika penerbangan saya dari Jakarta-Bengkulu di-delay selama 1 jam, beberapa waktu lalu. Saat itu gate 2a penuh sesak, sampai-sampai saya tidak kebagian tempat duduk. Saya terpaksa berdiri di dekat tangga. Saat itulah saya lihat ada space kosong di dekat dinding. Sebenarnya bukan tempat duduk, melainkan semacam rel panjang yang merupakan ventilasi mesin pendidingin ruangan. Tapi ada beberapa bagian yang ditutup sehingga memungkinkan untuk duduk di sana.
Saya pun duduk di sana dan kemudian menyadari di sebelah saya ada turis. Saya langsung mikir, eh ada turis..., bisa duduk lagi. He he...
Tadinya ragu-ragu buat nyapa. Khawatir dia curigation, ntar dia pikir saya SKSD ada maksud apa-apa. Ntar dikira mo nge-bom lagi. Secara, tampangnya mendukung gitu loh he he..
Tapi itung-itung latihan bahasa Inggris gratis, saya pun nyapa aja.
"Where are you heading, Sir?"
Tu turis gelagapan. Saya nyadar kalau sebenarnya dalam bahasa inggris tidak biasa orang membuka pembicaraan dengan menanyakan urusan orang. tapi ini kan indonesia, negeri dimana orang-orang bertanya kalimat-kalimat mau tahu urusan orang seperti "Mau kemana?" atau "dari mana?" sebagai pembuka percakapan. Biarin aja, biar jadi bahan cerita dia kalo pulang ke amrik ntar.
Ntar kalau dia lama di Indonesia bakal tahu juga kok, bahwa di sini orang baru kenal di air port bisa langsung nanya, "Kok kamu belum kawin, padahal kan usianya udah cukup tuh?", atau berkomentar "Kayaknya badan kamu kurang proporsional deh. agak gemukan."
Jadi saya pede aja. Si turis pun jawab, "Mmm... Bunaken. Manado." katanya. "Are you going to manado to?"
"No, Sir. I'm going to Bengkulu. Do you know Bengkulu?"
Tu turis belagak mikir bentar, lalu geleng-geleng sambil bilang, "No."
"It's Ok." jawab saya ngasal.
Waktu itu si turis bersama dua orang anaknya, laki dan perempuan, kira-kira usia SMA. Saya pun komen, "Nice children you have, Sir."
Saya tak peduli apa dia paham maksud saya. Yang penting waktu bialng begitu niat saya baik he he...
"Oh, thanks." jawabnya. Bikin saya lega, bahwa ternyata dia tahu kalau saya memuji anak-anaknya.
Kedua anak turis itu lagi tidur-tiduran di kursi. Yang laki nyuri-nyuri liat, mungkin dia khawatir bapaknya saya sandera.
"Do you work in Manado or something?" lanjut saya.
"Oh, no. I wanto to dive," katanya. "Scuba diving." jelasnya kemudian, mungkin dia dia khawatir saya berpikir, nyelam kok jauh-jauh amat? gak bisa di kolam renang aja?
"Oh, I see." kata saya. "So, where are you from"
"Canada." jawabnya lebih santai. Mungkin dia mulai bisa merasakan bahwa saya sama sekali tidak kelihatan seperti akan melakukan bom bunuh diri, menyandera, atau sejenisnya yang membahayakan jiwanya.
"Oh, so far, uh?" komentar saya.
Obrolan kami pun berlanjut lebih santai. Kami ngobrol banyak hal. Saya nanya ini-itu. kadang-kadang ngasal. Kadang-kadang saya tidak paham apa katanya. Soalnya dia ngomong cepet banget kayak ngobrol sama adeknya. Dia pikir bahasa iNggris saya sehebat dia kali.
Pernah saya sampai dua kali minta dia mengulang pertanyaannya. Waktu itu dia ngomong cepet dan gak jelas banget. "Is it normal ... xsdzs ... asdaw@##das .. time .xasxssvcsdew ... bla bla bla"
"Pardon me, Sir?"
"I mean ... sun .. xsdzs ... asdaw@##das .. time .xasxssvcsdew ... bla bla bla"
"I beg you a pardon, I didn't get it, Sir" kata saya bengong.
Tu bule ngambil nafas panjang, lalu dengan isyarat tangannya di menunjuk ke matahari sore yg masih terik waktu itu, "The sun ...," katanya. "goes down .... at ..."
"Oh, i know what you mean Sir!" sela saya cepat. "Six fifteen!" sambung saya.
Rupanya dia nanya jam berapa mata hari tenggelam. Dia sih nanyanya pake idiom idiom gitu... he he
Berikutnya pembicaraan kami berlanjut soal penerbangan kami yang di delay. Dia tanya apakah itu biasa di sini. Saya pun ngecap panjang lebar. Tak peduli tu turis kenngnya berkerut-kerut berusaha mengikuti kata-kata saya. Waktu itu dia banyak tanya tentang Indonesia. Saya juga banyak bertanya tentang negerinya. Dia bilang di Kanada sekarang lagi snowy snowy gitu. winter maksudnya. Saya bilang saya pengen sekali liat salju.
Dari pembicaraan kami yang panjang lebar itu, ada satu hal yang sampai sekarang begitu berkesan. Waktu itu tadinya saya nanya gini,
"Is it a holliday time now in Canada, Sir?"
"Oh, ya. For Christmas. They have three weeks. I mean for schools is three weeks. but for office only two days." begitu kira-kira jawabannya.
Saya pun langsung penasaran, "So, you don't have to work?" tanya saya.
Maksud saya: kalau liburannya cuma dua hari kok kamu bisa scuba diving segala? apa kamu gak harus masuk kerja?
Rupanya dia paham maksud saya. "Oh, I'm a self employer, so I can manage my own holliday"
Weee, bisnis men ni, pikir saya. Pasti uangnya banyak banget, sampe-sampe bisa scuba diving jauh banget ke manado. Saya cuma bisa angguk-angguk kagum.
Enak kali ya, jadi bisnismen gitu. Bisa menentukan kapan mau libur dan bisa ajak anak-anak jalan-jalan ke luar negeri. Haduh... jadi ngiri. teringat nasib diri yang cuma seorang guru, yang gajinya kecil, yang belum pernah liburan ke mana-mana. Jangankan luar negeri, luar kota aja jarang. Kapan ya, bisa kayak dia.
Sampai ketika announcer mengumumkan bahwa pesawat saya sudah siap berangkat dan saya mohon diri, kata-kata si turis tentang self employer itu terus saja jadi pikiran saya.
bisa gak ya saya kayak dia. Bisa gak ya saya jadi bisnismen: self employer kayak dia?
Bukannya saya tidak suka pekerjaan jadi guru. Saya menikmati kok, walopun kadang-kadang periihh... (lebay.com)
Jadi guru harus kerja ekstra keras. Tanggungjawabnya besar. Jam kerjanya tak kenal waktu, coz walaupun sudah pulang kadang masih harus memeriksa pekerjaan siswa. Dan untuk itu semua kadang-kadang masih saja dihujat dan dibilang tidak profesional. (Barusan dihujat ama siswa sendiri ni..., dibilang gak becus).
tapi saya suka jadi guru, karena memang itulah pilihan saya dari awal.
Namun kadang-kadang memang terpikir juga, bahwa jadi guru ya bakal gini-gini aja. Ga bisa kaya kayak profesi lain. Gajinya ya sebegitu aja sampai tua nanti. Mau korupsi kayak pejabat-pejabat, apa yang mau dkorupsi he he...
Ngiri juga liat orang kayak si turis dari kanada di air port itu, yang punya duit banyak dan bisa libur kapan dia mau. Yang Self employer, katanya.
Halah... Self employer... self employer.... bisa gak ya saya jadi self employer? Mau bisnis apa ni ya kira-kira, yang bisa dilakukan oleh seorang guru? La wong jual buku aja ga boleh lagi. Jual bakwan di koperasi sekolah kali ya? Eh, kalo jual bakwan, kapan bisa ke luar negerinya ngajak anak-anak scuba diving ... he heh
haduuuh...
duh, jadi sedih membaca ttg nasib seorang guru ...
ReplyDeleteyah, begitulah kenyataannya..
ReplyDeletebisa2 para guru beralih jadi self employer nih ..haha
ReplyDelete