What? Berpose di Borobudur?
Yup, kalian tidak salah baca. Salah satu dari daftar keinginan-keinginan saya memang berpose di Borobudur. Mungkin bagi sebagian orang ini terdengar sederhana dan tidak cukup hebat untuk diimpikan. Bagi sebagian lagi mungkin hal itu sudah dilakukan dulu ketika masih SD, waktu diajak jalan-jalan oleh orang tua mereka pas liburan sekolah. Atau bahkan ada yang ke Borobudur sama rutinnya seperi ke dokter gigi, 6 bulan sekali, atau sebulan sekali seperti check up, atau bahkan sehari tiga kali kayak minum obat. Pokoknya samasekali tidak istimewa.
Tapi bagi saya, berada langsung di pelataran borobudur, menaiki satu demi satu tangga nya, mengelus relief-relief dindingnya, mengintip patung buda di dalam stupanya: adalah sebuah impian besar. Cukup besar untuk kemudian saya masukkan dalam daftar mimpi-mimpi saya. Saya tidak memasukkan tangkuban perahu, ancol,kubah emas, atau bahkan pergi ke Bali dalam daftar itu.
Beberapa waktu sebelumnya saya sempat berada di Bali, tapi kemudian saya tidak menulis apa-apa tentang pengalaman di sana. Saya yakin di mata dunia Bali lebih terkenal dari borobudur, mengingat pulau wisata kita itu konon bahkan jauh lebih dikenal dari Indonesianya itu sendiri. Tapi bagi saya Borobudur lebih saya kagumi.
Mengapa? Karena saya adalah orang yang sangat mengagumi sebuah maha karya. Sebuah masterpiece yang dikreasikan oleh tangan-tangan manusia, yang tentu saja seseorang yang punya visi dan mimpi besar. Saya mengagumi setiap pembuktian atas sesuatu yang tadinya dianggap tidak mungkin. Borobudur adalah salah satunya.
Berbeda dengan Bali yang indah ‘dari sononya’, borobudur adalah sebuah hasil karya manusia. Begitu megah dan menginspirasi. Dibangun berdasarkan mimpi seorang Samaratungga, salah satu raja Mataram dari dinasty Syailendra. Pembangunannya memakan waktu hingga setengah abad lamanya. Suatu hal yang luar biasa mengingat karya dari jaman kuno itu tetap terlihat luar biasa hingga abad ini. Tetap menjadi candi termegah yang tiada tandingnya di dunia.
Saya kagum pada mimpi besar samaratungga. Kagum juga pada ketekunannya menunggu dan terus menerus berusaha mewujudkan mimpi itu hingga lima puluh tahun. Lima puluh tahun!
Entah bagaimana bisa terbetik idenya untuk membangun candi seluas 123 x 123 m setinggi sepuluh tingkat lengkap dengan punden berundaknya, pahatan relief-relief di dinding-indingnya, stupa-stupanya, patung-patungnya, yang semua dibangun dengan tenaga manusia, tanpa bantuan mesin, tanpa peralatan modern, bahkan TANPA SECUIL PUN SEMEN! Memang sulit dipercaya sebuah candi megah dan kokoh seperti borobudur rupanya dibangun dengan hanya menyusun balok-balok batu seperti menyusun sebuah puzzle. Tanpa perekat sama sekali.
Itulah yang membuat saya begitu mengagumi mahakarya Borobudur dan begitu memimpikan untuk secara langsung melihat mahakarya itu.
Saya ingat dulu ketika sekolah kita sering mempelajari borobudur, hanya sebagai materi yang akan keluar saat ujian. Beruntung bagi yang tinggal dekat-dekat Jogja atau jawa tengah yang bisa melihat langsung, tapi bagi saya yang tinggal di pedalaman Sumatera, pelajaran itu hanya membuat semakin penasaran saja. Sampai sekarang bahkan saya ingat konsep-konsep punden berundak, istilah-istilah seperti kamadathu, rupadhatu, arupadhatu, stupa, dan sebagainya selalu keluar saat ujian. Tapi saya tidak pernah benar-benar paham.
Alhamdulillah, tanggal 29 Juli lalu menajdi hari yang bersejarah bagi saya, karena hari itu akhirnya saya berhasil menginjakkan kaki di Borobudur yang mahsyur itu. Dan tentu saja berpose he he he...
Memang sudah cukup terlambat, mengingat saya sudah menginginkannya sejak sekolah dulu. Baru kali ini ada kesempatan. Tapi sensasinya masih seperti yang saya bayangkan. Tetap saja dahsyat.
Sejak dari ticket gate saya sudah berdebar-debar. Berjalan cukup jauh ke lokasi candi membuat hati semakin deg-degan. Dari jauh sekonyong-konyong puncak candi mulai terlihat di sela-sela pohon. Saya pun semakin dicekam nuansa kolosalnya. Hingga akhirnya jalan batu yang saya susuri itu pun mengantarkan saya ke pelataran candi dan disambut langsung oleh tangga utama. Decak dan gelengan kagum pun tak sadar terus saya lakukan.
Saya berdiri tegak di kaki borobudur yang gagah. Menengadah puncak candi yang berlatar langit biru. Terbius oleh pesonanya. Ingin rasanya bertingkah lebih lebay lagi seperti misalnya berteriak keras-keras sambil membentangkan tangan lebar-lebar, atau bersimpuh menangis bahagia di kaki tangga. Tapi syukurlah saya berhasil menahan diri he he he. Secara, ada ratusan wisatawan yang lalu lalang di sekitar saya. Khawatirnya nanti malah saya yang jadi pusat kunjungan wisata :-p
Saya pun kemudian tak sabar segera menaiki tangga-tangganya yang terjal. Langsung menuju tingkat atas dimana terdapat stupa-stupa. Lalu kemudian ke atas lagi menuju stupa utama. Berdiri memandang puncak-puncak bukit yang mengelilingi candi. Lalu berkeliling, turun lagi ke tigkat-tingkat bawah, memperhatikan relief-relief, dan kemudian melakukan kegiatan utama: berpose tentu saja :-D
Kerasan sekali rasanya.Rasanya saya sanggup bermalam di sana dua hari dua malam, sekedar untuk mengangumi warisan bangsa-bangsa terdahulu itu. Begitu menakjubkan. Ah..., alhamdulillah. Tercapai satu mimpi lagi.
Pulang dari sana saya mencoba mereka-reka bagaimanakah rupanya Simaratungga. Raja Mataram yang satu itu semakin special di mata saya. Rasanya saya ingin bertemu dia. Untuk bertanya satu hal saja: bagaimana tipsnya agar bisa tetap sabar dalam usaha mewujudkan mimpi-mimpi kita.
Saya juga punya mimpi-mimpi besar (hey, tentu saja bukan membangun tandingan borobudur :-p ). Tapi kadang saya tidak gigih dan kurang sabar mengejarnya.
Saya ingin seperti Simaratungga: melakukan sesuatu yang dahsyat dan luar biasa, mewariskan sebuah masterpiece yang abadi dan dikagumi orang dari jaman ke jaman. Mudah-mudahan suatu saat nanti. Amiin.
Newer
Older
Subscribe to:
Post Comments (Atom)





No comments
Post a Comment