Enam Hari Pertamaku di Amerika

Sunday, August 29, 2010

akhirnya punya kesempatan juga menulis note ini. Mudah-mudahan ada manfaatnya bagi yang membaca dan yang menulisnya. amin..

Well... Sejak tiba disini hari minggu lalu, banyak sekali tantangan adaptasi yang dihadapi disini. Mulai dari cuaca, makanan, sampai perbedaan budaya yang kadang-kadang bikin bingung. Cuaca disini sedikit unik. Sebenarnya saat ini masih musim panas, tetapi di daerah Washington state, tidak ada istilah panas. Meskipun matahari bersinar begitu terik, tetap saja kalau angin bertiup saya menggigil. Kalau pagi-pagi kita buka jendela rasanya mirip dengan buka kulkas. Brr.... hawa dingin menusuk langsung menyapa. Begitu juga kalau keluar di malam hari, gigi geraham sudah gemerutuk dibuatnya.

Sampai hari ini saya masih terus saja 'menderita' efek dari cuaca ini. Bibir saya pecah-pecah dan kering. Kemaren bahkan berdarah tidak jelas. Kulit bersisik, karena terbakar matahari. Bukan apa-apa, disini kalau siang saya sengaja berjemur jika terlalu dingin. Parahnya lagi, saya hanya bawa satu jaket tipis doang yang akhirnya terpaksa dipakai berulang-ulang.


Saya yakin masalah cuaca ini tidak akan semakin parah, seiring dengan tubuh yang akan segera beradaptasi. Akibatnya pun masih bisa ditahan. Tapi satu masalah lain yang sedikit lebih berat adalah soal makanan. Sejak datang ke sini sampai hari ini (6 hari), baru 1 kali saya makan nasi. Selebihnya makan makanan yang 'tidak jelas'. Tidak jelas, baik dari segi rasanya maupun dari segi gizinya.

Disini makanan rasanya aneh-aneh. Saya ingat dulu di tanah air waktu kecil saya seirng menyebut nama-nama makanan luar yan gsaya  pikir ena,k seperti pizza atau sphageti. sekarang, sungguh, i'm sick of that all. Mencium baunya saja rasanya muak.
"You've to be get used to that kind of food, guy. You're going to be here for 1 year!" kata teman saya. Emang bener sih. Saya juga berharap demikian. Tapi mau apalagi. saya sudah terlanjur banyak makan jengkol dan  lemea, jadinya sulit mencoba makanan baru he hehe...
Di Indonesia saya suka makanan luar, tapi bukan ssebagai makana utama. tetap saja setelah makan apapun ujung-ujungnya balik ke nasi lagi. yah, like other ordinary indonesian lah..

Yang membuat persoalan makan ini semakin berat adalah karena sekarang sedang berpuasa. Disini saya puasa hampir 16 jam, karena jam 8 malam disini masih terang.Waktu malamnya jadi singkat sekali. Habis sholat isya dan ngobrol-ngobrol dikit tau-tau sudah jam sebelas. Pagi jam setengah empat sudah bangun lagi untuk sahur.MasyaAllah...
Ketika berbuka saya tidak makan makanan yang baik. Selain harga makanan mahal-mahal,ya soal rasanya itu tadi. Beberapa hari di awal saya hanya mencoba-coba macam-macam makanan untuk mencari tahu mana yang cocok di lidah. Banyak makanan yang setelah dimasak tidak dimakan. Setiap mau buka atau sahur saya bingung mau makan apa.

Sebagai muslim tentu saja saya tidak bisa makan makanan apa saja yang dijual di supermarket, terutama yang mengandung daging. Sampai hari ini saya juga belum makan daging apapun. Tahu sendiri, mana ada hewan di sini disembelih dengan nama Allah. Saya hanya bisa mencari makanan sayuran saja. Itu pun tidak bisa sayuran segar karena di apartement tidak bisa masak, sebab alat-alatnya sudah dipakai untuk memasak 'bab1' (sungguh, tidak ada maksud menyinggung teman-teman yang beragama lain. Tapi begitulah agama saya mengatur).

Tapi alhamdulilah, persoalan peralatan masak ini sudah dikompormikan dengan teman-teman seapartemen. Syukur di sini -- asyiknya di amerika -- semua orang respek terhadap kita. Termasuk dalam urusan agama. Apapaun, asal kita membicarakannya  semua orang akan menghormati.

Di kampus pun urusan bergama ini benar-benar 'bebas'. Personal Coordinator-nya pun benar-benar membantu. Dia bahkan jauh-jauh hari telah menyiapkan jadwal ramdahan dan alamat masjid terdekat di tempat saya. Ketika ada cara makan bersama, makanan yang dipilih selalu bebas dari pork. Juga ketika kita ingin izin untuk sholat, dengan senang hati mereka mempersilahkan.
Nah, sayangnya seringkali saya tidak menemukan ruangan untuk sholat. Jadinya seringkali saya sholat di luar. Di halaman, di rumput, di bawah pohon, atau di aspal. Tapi itu tidak masalah karena tidak akan ada orang yang akan mangganggu. Bahkan tidak ada yang peduli :-p (Gosh, I like America!).

Sebenarnya di apartement saya ada tiga orang muslim dari toal enam keseluruhannya. Saya dan teman dari indonesia, ditambah 1 orang dari pakistan. Tapi dia syi'ah dan tidak bisa sholat bersama kami dan tidak sholat jumat di masjid yang sama. Tapi bagaimana pun itu lebih baik. At least kami bisa berbagi makanan. Sebelumnya, pada masa orientasi, juga banyak teman-teman muslim lainnya di sini. Kebanyakan dari india dan pakistan. Tapi sebagian besar tidak sholat dan tidak puasa. Dengan macam-macam dalih mereka. Hanya ada satu muslim dari india yang komitmen agamanya bagus, selain tiga orang mahasiswa dari mesir yang fotonya bersama saya ketika sholat zuhur di lereng mount rainier ada di wall saya.

Persoalan adaptasi lainnya adalah soal budaya. Sungguh, segala sesuatu disini rasanya berkebalikan dengan yang tanah air. Baik itu positive maupun negatif. Hal-hal positive misalnya kebiasaan orang amerika yang tidak membuang sampah sembarangan dan tidak ingin menngganggu orang. Jika kita hendak menyeberang (jalanan kecil/gang) disini mobil-mobil akan berhenti dan mempersilahkan kita lewat. Tapi di jalan besar kita tidak boleh menyeberang walaupun sebenarnya mobilnya tidak terlalu ramai. Jika jalanan benar-benar kosong kita boleh menyeberang, tapi itupun harus berlari dan tidak boleh berhenti di tengah jalan. kabarnya jika dilihat polisi akan didenda. Padahal daerah apartement saya tidak terlalu ramai seperti di seattle. Tapi tetap saja  harus pergi ke bawah lampu merah dan menekan tombol pedestrian cross dan menunggu sampai lampu tanda waktu menyeberang menyala.

Orang-orang amerika yang individualis disini bagi saya juga sangat unik. Disini, walaupun di lokasi perumahan yang padat atau di kompleks yang rapat, sangat jarang terlihat ada orang berada di luar rumah seperti di indonesia. Orang-orang disini tidak saling mengenal satu sama lain. Bahkan di apartement saya, meski berhadapan pintu, kami tidak mengenal tetangga sebelah. Mereka tidak akan menegur, bahkan jika kita mengganggu mereka misalnya dengan menyetel musik kuat-kuat. Alih-alih menggedor pintu kita danmeminta kita mengecilkan musik, mereka akan menelepon 911 dan membiarkan polisi yang menyelesaikannya.

Ketika pertama datang, melihat jalanan yang sepi dan rumah-rumah yang seperti sedang ditinggalkan penghuninya, saya sempat bertanya kepada salah seorang official. Pada kemana sih orang-orang, kok sepi amat? Gak kayak jakarta orang-orang dimana-mana. Kira-kira begitu. Bagaimana tidak, meski mobil ramai lalu lalang, restoran dan supermarket berjejeran, tetap saja tidak terlihat orang-orang. Tapi setelah mendapat penjelasan akhirnya saya tahu bahwa begitulah kebiasaan orang disini.

persoalan bahasa juga masih sedikit jadi kendala, terutama jika berbicara dengan orang-orang non-native yang aksen super aneh. Orang-orang dari afrika, india, pakistan, mereka semua bicara bahasa inggris lancar sekali. Tapi dialeknya sangat sulit dimengerti. Jauh lebih mudah memahami native speaker yang sedang ngomel sekaliipun.

Tapi bagaimanapun, meski banyak tantangan, alhamdulillah sampai hari ini saya masih baik-baik saja. Ya, everybody knows that. I wouldn't be easy. Nothing is easy in adaptation. But, no problem is unsolvable, I believe that.

well, umm... Tadinya note ini saya ingin lanjutkan soal pengalaman sholat jum'at pertama di negeri paman sam. karena baru saja pulang dan dapat mengalaman super menarik. Tapi akan panjang ceritanya kalau lanjut disini. InsyaAllah saya sambung lagi nanti.

mount rainier
seattle
seattle

sholat di lereng mount rainier

3 comments

  1. hahaha...
    dasar kowe mas,
    aku kemaren ke islamic center,
    trus tanya ke mereka gimana kalau makan daging disini
    mereka bilang ada 2 pendapat,
    ada yang bilang boleh, ada yang bilang tidak boleh.

    buat saya :
    "hantam sajalah, tapi jangan lupa baca bismilah" :P

    ReplyDelete
  2. Aq salut ma kamu mengenai sholat, aq disini alhamdulillah (banget) ada tempat untuk sholat di kampus.

    Oiya, kemarin aq dapat info dari fam-mentornya temenku. Tahun lalu dy jadi fam-mentornya anak Mesir, jadi dy tahu mengenai daging halal. Saran dy cari di google butcher halal kemudian pesan dalam jumlah besar (patungan ma temen-temen) kemudian mereka akan kirim dalam keadaan beku dan kamu bisa simpen dan masak untuk sebulan. ^^

    Dan untuk alat masak mending beli buat kamu sendiri aja, cz aq disini juga aq beli kemudian aq pakai dan simpen di kamar, biar terjaga ke halal-annya ^^

    ReplyDelete
  3. @kojack: ya bener jek, ada dua pendapat. Memang kembali ke kita mau pilih yg mana. Jek ga salah kalau mau makan coz ada dalilnya juga. Kalo saya rasanya kurang lancar aja di kerongkongan :-D

    @Chita: Thanks sarannya. That's a good idea

    ReplyDelete

Newer Older