Sholat Jum'at Pertama di negeri paman Sam

Sunday, August 29, 2010

Kira-kira dua bulan lalu salah satu temanku menulis note dengan topik yang sama. Waktu itu terkesan sekali membacanya. Setelah mengalami sendiri, rupanya memang, pengalaman pertama shalat Jum'at di sini selalu unik

Sejak hari kamis (27/8) saya sudah mencari-cari informasi tentang Islamic center di sekitar Kent, tempat saya tinggal. Dari beberapa mahasiswa muslim yang sudah berada disini lebih dahulu untuk mengikuti pre-academic, saya dapat informasi bahwa ada dua masjid (Islamic Center) yang paling mudah dijangkau di sini. Pertama adalah Islamic center of Kent, dan kedua adalah Islamic Center of Seattle. Dua-duanya bisa dicapai dengan dua kali ganti bus.

Awalnya teman seapartemenku berencana mau mengantarku ke tempat tersebut pada hari kamisnya itu, sebab, meskipun muslim dia tidak pergi ke mesjid yang sama dengan kami. "We are not going to the same masjid," katanya. Saya tadinya heran, tapi segera ingat bahwa dia syi'ah. Syi'ah punya mesjid sendiri di Washington ini, dan mereka tidak sholat di masjid lain. tapi sampai kamis sore rupanya kami sibuk di kampus dan tidak punya waktu untuk ke sana.

Akhirnya dia bilang bahwa aku sebaiknya pergi bersama mufeed, salah seorang muslim dari India. Masalahnya, ketika aku konfirmasi ke mufid apakah dia akan ke mesjid besok, dia bilang tidak. Alasannya klise, bahwa dia tidak mengerjakan sholat dan tidak puasa, jadi tidak ada artinya juga sholat jum'at. :-p

So, umm... gimana caranya saya bisa ke sana? Saya baru beberapa hari disini. Jangankan bepergian sendiri jauh-jauh, naik bus sendiri ke kampus aja belum pernah. Tapi bagaimanapun saya harus ke masjid.
So, saya pun search google map, mencari route ke Islamic Center of Kent. Walaupun sudah tahu nomor busnya dan dimana harus berganti bus, tetap saja saya tidak paham.


kebetulan hari kamis itu project coordinator kami si Jennifer datang inspeksi mendadak untuk memeriksa keadaan apartement kami. Karena tahu saya muslim dia pun bertanya apakah besok saya akan ke masjid. Saya pun jadi curhat ke dia, bahwa saya sedang bingung bagaimana caranya sampai di sana. Dia lalu berjanji akan menjelaskan rutenya via e-mail.

Malamnya e-mail Jennifer memang masuk. Penjelasannya memang jauh lebih dimengerti. Dia memberi dua rute ke dua Islamic center terdekat. berbekal penjelasan itulah kemudian aku dan temanku dari Makassar berencana akan pergi.

Pagi jumat kami ke bank untuk membuka akun baru. Setelah itu saya pun harus bertemu mentor family saya untuk berkenalan. Karena urusan-urusan itu kami pun kemudian jadi terlambat bus. Kami berencana ke Islamic center of Seattle, karena kelihatanya rutenya lebih mudah. Tapi saat itu jam sudah menunjukkan pukul 11.30 siang, sementara bus berikutnya menuju Seattle adalah jam 12.17. Sholat jum'at disini sekitar jam 1 lewat dan untuk ke seattle memakan waktu sekitar 25 menit. Karena mepetnya waktu kami pun memutuskan untuk ke masjid Kent saja yang lebih dekat.

Dengan berdebar-debar saya dan teman saya naik bus 166 menuju Kent Station. Saya tidak tahu bagaimana itu bentuknya Kent Station. Saya tanya supir bus, tapi kelihatannya dia kurang bersahabat. Atau mungkin pertanyaan saya terdengar bodoh sekali baginya.

Selama di bus saya selalu lihat kiri kanan. Takut-takut kelewat atau gimana he he... Tapi Alhamdulillah tak lama kemudian bus berhenti dan ada suaranya kayak di buswas, "Kent Sation!" katanya. Saya pun menarik teman saya turun.

Dari sana kami kemudian mencari bus stop 197 ke arah Renton. Rupanya busnya sudah ngetem di sana. Saya naik dan mengarahkan kartu ke sensor di depan supir sambil tersenyum pada pak sopir. Sengaja saya ambil tempat duduk paling depan, karena begitu ada kesempatan nantinya saya ingin bertanya banyak sama sopir bus.
Sopir bus waktu itu adalah seorang lelaki setengah baya kulit hitam yang kelihatannya ramah. Waktu saya tanya, "Do you know Islamic Center of Kent, sir?" dia berpikir sebentar lalu menggeleng. "No." katanya dengan wajah menyesal tidak bisa membantu. Saya buka lagi rute yang dikasih Jennifer dan melihat bahwa saya harus berhenti di depan Safeway (nama supermarket).
maka saya pun bertanya, "How about Safeway?"
"Safeway? Yes, of course I know Safeway," jawabnya. "Do you wantu to stop there?"
"Yes, please get me off infront of safeway." jawab saya.

Saya pun berucap Alhamdulillah atas pertolongan Allah memudahkan jalan saya. Walaupun saya masih harus mencari-cari setelah turun di depan safeway nantinya, paling tidak tempat yang dituju tidak akan jauh-jauh amat dari sana.

kami duduk dengan anteng. memperhatikan orang-orang yang naik ke bus. Sampai suatu ketika seorang lelaki baya berbadan besar naik dan menatap saya tajam. Melihat tampangnya yang seram saya langsung ciut. Tapi begitu dia berucap "Salamualaykoom!" hati saya pun berteriak girang.

Hari itu saya memakai batik dan memasang peci di kepala. Mungkin karena peciitulah dia tahu kalau saya muslim. Begitu saya jawab salamnya dia langsung menyalami kami dan mengatakan dia juga muslim. Dia dari Irak, katanya.
Dia berbicara antusias sekali. Ketika bersalaman genggamannya erat sekali, seperti kami adalah teman baik yang sudah lama tidak berjumpa. Meski harus berpikir berulang-ulang untuk memahami aksen inggrisnya, kami senang sekali bicara dengannya.
Kami pun bilang bahwa kami akan pergi sholat jum'at dan bertanya apakah dia jug amenuju tempat yang sama. Sayangnya dia tidak sedang pergi ke masjid. Dia mengeluarkan beberapa lembar kartu dari sakunya danmenjelaska bahwa dia harus pergi menemui dokter yang tertera di kartu itu. "Allah know that. I really wanto to go to Jum'ah" begitu kira-kira katanya.

Kami minta petunjuk dimana kami harus turun, tapi sayangnya dia tidak tahu masjid yang kami tuju. Untungnya saat itu tiba-tiba naik seorang lelaki tua dan anaknya yang memakai gamis dan peci. Dia duduk tepat di depan kami. Si pria Irak langsung menyapanya dan menanyakan perihal masjid yang kami tuju. Tapi anehnya si pria tua itu hanya geleng-geleng kepala sambil berulang-ulang menyeebut "somalia. somalia.."

Rupanya dia tidak bisa bahasa inggris, sama sekali. Anaknya juga demikian. Tapi si pria Irak tidak putus asa. Dia mencoba istilah-istilah arab seperti shallah, masjid, jum'ah dll. Tapi tetap saja dia geleng-geleng kepala. Saya pun inisiatif mencoba menggunakan gesture. "Me...", kata saya sambil menunjuk diri saya sendiri, "want to go shallah. ". Saya mengagkat tangan menggambarkan takbir lalu sedekap. "To masjid." lanjut saya. "Do you go to masjid?" tunjuk saya padanya.

And... finally, it work! Pria somalia itu paham maksud saya. dia mengangguk-angguk kuat-kuat mengiyakan.
Tak lama kemudian bus pun berhenti, dan si pria somalia itu pun menarik tangan anaknya dan memberi isyarat pada kami agar kami ikut turun. Saya dan teman saya pun turun tergesa-gesa, sampai lupa mengucapkan salam kepada si pria irak yang telah membantu kami. kami pun turun dan bus pun berlalu. Namun dari balik jendela saya bisa melihat si pria irak tadi melambai-lambaikan tangannya. Saya pun membalas seraya menyesal mengapa tidak meminta kartu nama atau alamat yang bisa saya hubungi. Saya bahkan tidak tahu namanya! ah, dasar...

Si pria somalia berjalan sangat cepat dan langkahnya besar-besar. Saya sampai harus sedikit lari-lari kecil mengejarnya. Kami berjalan di atas trotoar dan menyebrang jalan-jalan kecil. Lalu menunggu mobil-mobil sepi untuk J-walk. Sepertinya mesjid ada di seberang jalan raya itu.

Kami pun menyeberang. saya memang melihat banyak orang danmobil-mobil parking di sana. tapi sungguh saya tidak menyangka kalau sebuah bangunansederhana  berdinding papan mirip rumah sederhana di indonesia di depankami, itulah rupanya masjid yang kami tuju. Saya benar-benar pangling. Tadinya dalam bayangan saya Islamic center yang akan saya temui itu besar dan megah. Tapi rupanya hanya segitu saja.

Bagaimanapun saya saat itu merasa senang sekali, sebab akhirnya kami bisa menemukan masjid. Saya bersyukur berulang-ulang dalam hati.

Kami pun berwudhu dan segera masuk ke masjid. Kami terpisah. Saya sempat di bawah sedangkan teman saya berada di lantai dua.

Masjid itu ramai juga. Macam-macam etnis sepertinya berkumpul di sana. Wajah-wajah 'lokal', tampang-tampang arab, afro-american, africa, somalia dan sebagainya berkumpul di sana. Semua tampak tidak jauh beda dengan keadaan di Indonesia.

Meski dari luar bangunan mesjid itu tampak sederhana sekali, namun di dalamnya kelihatan cukup luas dan bagus. Sholat pun berlangsung khusuk, dengan khutbah berbahasa Inggris. Agak sedikit berbeda dengan di tanah air. Disini azan dilakukan dua kali. Sebelum khutbah pertama dan sebelum khutbah kedua. Selebihnya semua sama.

Selesai sholat saya mengobrol dan berkenalan dengan beberapa orang. Semua yang saya temui sangat bersahabat. Ketika saya mengatakan bahwa saya dari indonesia dan baru beberapa hari disini, mereka menepuk-nepuk bahu saya. "Welcome to America. We are brother." dan sebagainya. Kartu nama pun berdatangan. Bahkan ada yang menawarkan untuk mengantar pulang, tapi saya tolak karena tidak enak.

Setelah orang agak sepi, saya dan teman sempat foto-foto sebentar. Lalu kami berniat menuju seberang jalan karena disana katanya ada toko hahal. Saya ingin sekali membeli daging, sebab sejak datang ke sini saya belum pernah makan daging.
Kami bertanya kepada tukang parkir yang mana toko halal tersebut. Dan ketika itu saya menyadari ada seorang lelaki dari dalam mobilnya memperhatikan kami terus.

Kami berjalan di trotoar menuju lampu merah untuk menyeberang. Tapi tiba-tiba sebuah mobil berhenti di tengah jalan. Tampak lakai-laki yang tadi meperhatikan kami memanggil-manggil agar kami masuk ke dalamnya. Awalnya saya ragu. Tapi saya mendengar ia menyebut-nyebut "Indonesia! Indonesia! Ayo masuk!"

Kami pun berlari mendekat dan kemudian bisa lebih jelas mendengar, "kalian orang indonesia kan? ayo masuk! kami orang indonesia juga!"

Mendengar itu tanpa ragu kami pun masuk ke dalam mobil. Di dalam sana istri laki-laki tadi langsung menyapa. "Mau kemana kalian?"
Saya dari bandung. Kami tinggal disini"

Maka sekali lagi saya pun mengucap alhamdulillah tak henti-hanti. Rupanya kami bertemu saudara lagi. Keluarga Pak Jalalludin, lelaki keturunan jerman yang lancar berbahasa Indonesia dengan istri dan dua anaknya Yusuf dan hanifah. Baik Yusuf maupun Hanifah juga bisa bahasa Indonesia, dengan logat bulenya yang lucu.

Kami pun berkenalan dan bercerit apanjang ebar. Mereka mengantar kami ke toko halal yang lebih besar dimana kami bisa membeli macam-mcama makanan halal. bahkan di sana juga menjual Indomie :-p.
selesai belanja kami diantar pulang sampai ke apartement. Dari mereka saya mendapatkan beberapa kartu nama dan nomor telepon yang bisa saya hubungi. Saudara-saudara sesama muslim yang tinggal di daerah kent.

berkali-kali saya mengucapkan terimakasih dan dalam hati terus bersyukur. Alhamdulillah, jalankami dipermudah. Hari itu kami dapat banyak kenalan baru. Rasanya 'derita' adaptasi dan shock culture yang kami alami beberapa hari ini berkurang seketika. Well, it's not so bad here...






· · Share

No comments

Post a Comment

Newer Older