Enam Hari Pertamaku di Amerika

3 comments

Sunday, August 29, 2010

akhirnya punya kesempatan juga menulis note ini. Mudah-mudahan ada manfaatnya bagi yang membaca dan yang menulisnya. amin..

Well... Sejak tiba disini hari minggu lalu, banyak sekali tantangan adaptasi yang dihadapi disini. Mulai dari cuaca, makanan, sampai perbedaan budaya yang kadang-kadang bikin bingung. Cuaca disini sedikit unik. Sebenarnya saat ini masih musim panas, tetapi di daerah Washington state, tidak ada istilah panas. Meskipun matahari bersinar begitu terik, tetap saja kalau angin bertiup saya menggigil. Kalau pagi-pagi kita buka jendela rasanya mirip dengan buka kulkas. Brr.... hawa dingin menusuk langsung menyapa. Begitu juga kalau keluar di malam hari, gigi geraham sudah gemerutuk dibuatnya.

Sampai hari ini saya masih terus saja 'menderita' efek dari cuaca ini. Bibir saya pecah-pecah dan kering. Kemaren bahkan berdarah tidak jelas. Kulit bersisik, karena terbakar matahari. Bukan apa-apa, disini kalau siang saya sengaja berjemur jika terlalu dingin. Parahnya lagi, saya hanya bawa satu jaket tipis doang yang akhirnya terpaksa dipakai berulang-ulang.
Kira-kira dua bulan lalu salah satu temanku menulis note dengan topik yang sama. Waktu itu terkesan sekali membacanya. Setelah mengalami sendiri, rupanya memang, pengalaman pertama shalat Jum'at di sini selalu unik

Sejak hari kamis (27/8) saya sudah mencari-cari informasi tentang Islamic center di sekitar Kent, tempat saya tinggal. Dari beberapa mahasiswa muslim yang sudah berada disini lebih dahulu untuk mengikuti pre-academic, saya dapat informasi bahwa ada dua masjid (Islamic Center) yang paling mudah dijangkau di sini. Pertama adalah Islamic center of Kent, dan kedua adalah Islamic Center of Seattle. Dua-duanya bisa dicapai dengan dua kali ganti bus.

Awalnya teman seapartemenku berencana mau mengantarku ke tempat tersebut pada hari kamisnya itu, sebab, meskipun muslim dia tidak pergi ke mesjid yang sama dengan kami. "We are not going to the same masjid," katanya. Saya tadinya heran, tapi segera ingat bahwa dia syi'ah. Syi'ah punya mesjid sendiri di Washington ini, dan mereka tidak sholat di masjid lain. tapi sampai kamis sore rupanya kami sibuk di kampus dan tidak punya waktu untuk ke sana.

Akhirnya dia bilang bahwa aku sebaiknya pergi bersama mufeed, salah seorang muslim dari India. Masalahnya, ketika aku konfirmasi ke mufid apakah dia akan ke mesjid besok, dia bilang tidak. Alasannya klise, bahwa dia tidak mengerjakan sholat dan tidak puasa, jadi tidak ada artinya juga sholat jum'at. :-p

So, umm... gimana caranya saya bisa ke sana? Saya baru beberapa hari disini. Jangankan bepergian sendiri jauh-jauh, naik bus sendiri ke kampus aja belum pernah. Tapi bagaimanapun saya harus ke masjid.
So, saya pun search google map, mencari route ke Islamic Center of Kent. Walaupun sudah tahu nomor busnya dan dimana harus berganti bus, tetap saja saya tidak paham.

Satu lagi mimpi tercoret: Kuliah di Amerika

No comments

Wednesday, August 25, 2010

Alhamdulillah. Rasanya luar biasa senang bisa menulis note ini. Seperti masih tidak percaya saja, salah satu dari daftar mimpi-mimpi saya yang tergolong 'berat' untuk diraih, sekarang sudah tercoret. Akhirnya saya sampai juga menjejakkan kaki di sini, di tanah amerika.

Sejak kecil saya tertarik dengan amerika. Awalnya mungkin karena banyak jagoan waktu kecil dulu adalah produk amerika. Superman, batman, spiderman, hulk, heman, robot voltron, scooby doo, kura-kura ninja, superboy, wonderwoman,  dsb adalah beberapa nama jagoan itu. Nama amerika kemudian semakin jelas terngiang-ngiang di telinga saya ketika menonton sebuah filmsangat mengesankan. ceritanya  tentang dua alien kecil yang tersesat ke bumi dan terpisah. Dua alien ini bisa berkompunikasi simple secara telepati, dan melalui itulah alien yang tua tahu bahwa saudaranya ada di america. hanya kata america yang bisa terrekam dengan jelas olehnya. Tetapi alien tersebut tidak tahu apa itu amerika.

Suatu hari si alien tsb menyelamatkan seorang anak kecil yang hendak dikorbankan sebagai sesembahan untuk dewa gunung. Mereka pun bersahabat. Bersama teman inilah si alien berkelana kemana-mana, untuk mencari amerika. mereka menanyai semua orang dengan pertanyaan "apakah kamu kamerika? apakah kamu amerika?"

Petualangannya begitu seru dan mengesankan, sayangnya saya tidak tahu judul film itu, karena waktu itu saya bahkan tidak peduli judul film :-D (mudah2an kalo ada teman yg berasal dari jaman yg sama bisa membantu).
Film itu begitu berkesan bagi saya, dan kata 'amerika' pun setelah itu selalu terngiang-ngiang di telinga.

Saya tidak tahu sejak kapan pastinya dan bagaimana awalnya, tiba-tiba saja saya menyadari bahwa saya seperti sudah memiliki keyakinan dalam hati, bahwa suatu saat nanti akan ke amerika. Saya tidak mengerti caranya ke amerika, tapi saya begitu percaya bahwa saya akan bisa ke amerika. (Pada kenyataannya memang banyak hal yang saya tidak mengerti dalam hidup saya tetapi saya meyakininya).

Film Indonesia dan Kampanye Lingkungan Hidup

2 comments

Tuesday, August 3, 2010


Kampanye tentang pemanasan global terus “memanas” dan “mengglobal”. Terlepas dari segala kontroversial yang masih ada, kampanye stop global warming telah memenuhi semua jenis media komunikasi publik di seluruh dunia. Mulai dari media cetak, radio, tv, dan internet. Tak ketinggalan dunia perfilman, isu-isu mengenai lingkungan hidup dan global warming juga telah menjadi tema banyak film yang diproduksi di berbagai negara di seluruh dunia belakangan ini.

Sebagai media komunikasi publik yang populer, film bisa menjadi ajang kampanye yang efektif. Salah satu sebabnya adalah karena film merupakan konsumsi semua lapisan masyarakat. Film bisa diterima di semua kalangan, mulai dari kelas atas sampai masyarakat miskin. Mulai dari yang menonton di bioskop mahal di kota besar hingga yang menyewa DVD murahan bahkan bajakan, di pelosok-pelosok kampung. Selain populer, sifat film yang audio-visual juga lebih bisa menangkap realitas dan menampilkannya secara baik kepada publik. Dengan dipadukannya dengan unsur-unsur narrative seperti plot, konflik, emosi dan sebagainya, pesan yang ingin disampaikan menjadi lebih mudah diterima, bahkan terasa jauh lebih menggugah.


What? Berpose di Borobudur?

Yup, kalian tidak salah baca. Salah satu dari daftar keinginan-keinginan saya memang berpose di Borobudur. Mungkin bagi sebagian orang ini terdengar sederhana dan tidak cukup hebat untuk diimpikan. Bagi sebagian lagi mungkin hal itu sudah dilakukan dulu ketika masih SD, waktu diajak jalan-jalan oleh orang tua mereka pas liburan sekolah. Atau bahkan ada yang ke Borobudur sama rutinnya seperi ke dokter gigi, 6 bulan sekali, atau sebulan sekali seperti check up, atau bahkan sehari tiga kali kayak minum obat. Pokoknya samasekali tidak istimewa.

Tapi bagi saya, berada langsung di pelataran borobudur, menaiki satu demi satu tangga nya, mengelus relief-relief dindingnya, mengintip patung buda di dalam stupanya: adalah sebuah impian besar. Cukup besar untuk kemudian saya masukkan dalam daftar mimpi-mimpi saya. Saya tidak memasukkan tangkuban perahu, ancol,kubah emas, atau bahkan pergi ke Bali dalam daftar itu.